Join The Community

Premium WordPress Themes

Jumat, 17 Desember 2010

Mencapai Derajat Wali


CERITA tentang "wali" sepertinya sarat dengan kesaktian-kesaktian dan pertapaan. Seorang "wali" dipercaya bisa menghilang, berjalan di atas air, bahkan bisa mengubah suatu benda menjadi bentuk lain. Seperti buah aren bisa diubah menjadi emas. Sementara itu, pertapaan dan bertapa dipercaya sebagai cara dan tempat untuk mendapatkan "kesaktian" itu.
Dipilihnya tempat-tempat yang sunyi, jauh dari keramaian orang banyak, seperti tempat kuburan, di bawah pohon yang tinggi dan rindang, bahkan di atas batu yang besar. Di tempat-tempat seperti itulah ia menyendiri dengan konsentrasi yang tinggi untuk tidak dapat digoda oleh godaan-godaan, baik lahir maupun batin.
Bahkan, ada cerita lain tentang orang yang dipercayai sebagai "wali", yaitu bahwa ia setiap salat Jumat tidak hadir di masjid jami yang biasa dipakai untuk salat Jumat. Ia tetap tinggal di kamar rumahnya. Ketika ditanyakan, kenapa ia tidak salat Jumat? Maka, jawabannya, secara lahir memang ia kelihatan tidak hadir di masjid, tetapi secara batin ia melaksanakan salat Jumat di Masjidil Haram Mekah. Demikianlah. Memang cukup "sakti" wali itu.
Cerita tentang "kesaktian" wali seperti tadi memang sudah telanjur dipercayai sebagian besar umat Islam di negeri ini. Dengan demikian, untuk mencapai derajat "wali" sungguh sangat berat. Tidak sembarang orang bisa menjadi "wali". Oleh karena itu, jumlah "wali" di Indonesia tidak berubah, tetap saja sanga. Padahal, jika memperhatikan firman Allah dalam Alquran, rasanya untuk mencapai derajat "wali" tidaklah seberat itu.
Seperti dalam surat Yunus ayat 62-64, Allah berfirman yang artinya, "Ingatlah! Bahwa sesungguhnya wali-wali Allah itu adalah mereka yang tidak punya rasa takut dan tidak juga bersedih. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. Mereka sudah mendapatkan berita gembira baik di dunia maupun untuk nanti di akhirat, sama sekali tidak akan ada pergantian terhadap keputusan Allah dan itulah keberuntungan yang besar."
Bahkan, dalam sebuah hadis qudsi, Allah telah memberikan petunjuk praktis yang jelas dan bisa dikerjakan oleh setiap mukmin yang mempunyai keinginan untuk menjadi "wali Allah", tanpa kecuali. Dalam hadis qudsi itu Allah berfirman, "Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, Aku akan mengumumkan perang dengan orang itu. Tidakkah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan amal-amal yang Aku senangi, di antara amal-amal yang Aku fardukan dan tidaklah juga hamba-Ku itu terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengamalkan amalan-amalan tambahan, yaitu nafilah (sunat) sehingga Aku mencintainya dan apabila Aku sudah mencintainya, Akulah yang memelihara pendengarannya ketika ia mendengar, Akulah yang memelihara penglihatannya ketika ia melihat, Akulah yang memelihara tangannya ketika ia berbuat, dan Akulah yang memelihara kakinya ketika ia berjalan. Apabila ia meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya dan apabila ia memohon perlindungan kepada-Ku, Aku akan melindunginya."
Petunjuk Allah SWT. tentang tahapan-tahapan amal yang mesti dikerjakan oleh semua hamba-Nya yang ingin sampai ke derajat "wali" sangatlah jelas. Bisa dikerjakan oleh semua orang yang beriman. Tahapan amal yang pertama, mengerjakan amal-amal yang difardukan oleh Allah sesempurna mungkin. Salat yang lima kali, saum di bulan Ramadan, zakat, dan haji. Semua yang fardu itu dikerjakan secara tertib, tepat waktu, tepat kaifiyat (cara) dan kekhusyukannya.
Kemudian, jika yang fardu sudah dikerjakan dengan baik, ditambah dengan mengerjakan amal­amal yang nafilah (sunat) secara kontinu. Karena memang setiap amal yang difardukan selalu
disertai amal yang nafilah (sunat). Ada salat sunat, saum (puasa) sunat, sedekah, sebagai sunat dari zakat dan sunat haji, yaitu umrah. Jika semua amal-amal yang sunat itu sudah dikerjakan secara mudawamah (kontinu), sebagai tambahan bagi yang fardu, amal-amal itulah yang bisa mengantarkan ke derajat "wali Allah".
Jika sudah menjadi "wali", Allah akan membelanya dari segala gangguan musuh-musuhnya yang mengancam padanya. Jika sudah ada pembelaan dari Allah, "kesaktian" akan bisa dimiliki. Walaupun, "kesaktian"-nya itu tidak bisa menjadikan ia bisa menghilang, berjalan di atas air, dan tidak juga bisa mengubah batu menjadi emas. Selain itu, apabila ia berdoa, doanya akan dijawab dan apabila ia memohon perlindungan, Allah akan memberi perlindungan. Jika sudah mendapat pembelaan dari Allah, doa sudah dijawab, dan mendapat perlindungan dari Allah, pantas bagi seorang "wali" Allah tidak akan punya rasa takut dan tidak merasa sedih. Tidak takut untuk mengatakan yang benar, sekalipun di hadapan penguasa yang zalim dan tidak juga bersedih untuk meratapi kegagalan dalam perjuangan.
Semua fardu di bulan Ramadan, kemudian ditambah dengan saum-saum sunat secara kontinu, itulah salah satu amal yang bisa mengantarkan ke derajat "wali". Di saat melaksanakan saum, demi kesempurnaan dan diterimanya oleh Allah sebagai suatu pengabdian kepada-Nya, yang dipelihara tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mampu memelihara pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki dari segala pekerjaan yang tidak baik. Demikian juga seorang hamba, apabila sudah sampai ke derajat "wali", pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki sudah dipelihara oleh Allah dalam penggunaannya. Dengan demikian, ia akan mendapatkan dan merasakan adanya "kesaktian".
Kisah tentang sahabat Nabi dalam sebuah peperangan yang melemparkan batu berikil ke arah musuhnya yang kafir. Ternyata hanya dengan lemparan batu kecil, orang kafir itu bisa mati dan terkalahkan. Sahabat sendiri kaget dan bertanya-tanya, mengapa lemparan batu kecil itu bisa menjadi sebab kematian si kafir? Kemudian, Allah menjelaskan dengan firman-Nya, "Bukanlah kamu yang menembak, di saat kamu menembak, tetapi Allah-lah yang menembak." Itulah "kesaktian" yang diberikah Allah kepada hamba-hamba-Nya yang telah menjadi wali-Nya. Betul-­betul "kesaktian" dari Allah. Bukan dari setan. *** (Drs.H.Entang Muchtar Z.A.)

0 komentar:

Poskan Komentar